Peran Partai Politik dalam Digitalisasi Isu Perubahan Iklim

Workshop Demokrat dan Digitalisasi Perubahan Iklim, Holiday Inn Pasteur, 14-16 Maret 2018
Opinion16.03.2018Didi Al-Amin
Smart City
Image from Google

Pandangan Sederhana Terhadap Perubahan Iklim

Perubahan iklim atau yang lebih dikenal dengan istilah climate change maka kita akan berbicara  tentang pemanasan global, dan isu ini telah menjadi perhatian masyarakat dunia. Dimana 197 negara anggota UNFCCC berkomitmen dengan berupaya untuk mencegah  kenaikan suhu global agar tidak melebihi 20 derajat Celcius. Indonesia pun kebagian tugas untuk itu, dimana komitmen tersebut telah tercantum dalam National Determinded Contribution (NDC). Pemerintah indonesia menargetkan penurunan emisi sebesar 20% pada tahun 2030 nanti. Meskipun target tersebut diharapkan tercapai pada tahun 2030 mendatang, namun tentu upaya untuk mencapainya tentu harus di lakukan dari sekarang. 

Perubahan iklim juga sering disebut sebagai isu global dan telah melahirkan perang ideologi di tengah para ilmuan dunia dan juga antara negara maju dan negara berkembang. Dimana kita bisa lihat setiap pertemuan internasional yang membahas tentang perubahan iklim selalu melahirkan perdebatan-perdebatan yang alot dan tidak ada kesepakatan yang mengikat secara hukum internasional. Kondisi ini tentu menjadi faktor penghambat untuk pencapaian target penurunan suhu dunia yang telah disepakati pada setiap konferensi. Salah satu perdebatan tersebut adalah tentang “siapa yang paling bertanggung jawab atas terjadinya pemanasan global tersebut dan bagaimana harus mempertanggung jawabkannya”.

Climate Change
Image from Google

Dilihat dari data sektor penyumbang emisi terbesar adalah industri, sehingga hal ini menjadi alasan bagi negara-negara berkembang untuk menuduh bahwa yang paling bertanggung jawab terhadap pemanasan global saat ini adalah negara-negara maju yang lebih kita kenal sebagai negara yang telah terlebih dahulu mengembangkan sektor industri. Sementara menurut negara maju permasalahan pemanasan global adalah permasalahan semua negara atau masyarakat yang hidup di planet di bumi ini, dan karenanya harus diselesaikan secara bersama. Sehingga kondisi lempar tanggung jawab ini tentu akan menjadi penghambat untuk pencapaian target nasional dan global yang telah disepakati tersebut. 

Saat ini dampak dari perubahan iklim telah dapat kita lihat dan mulai terindentifikasi serta terukur secara ilmiah, tentu sudah tidak waktunya lagi perang ideologi dan sudah saatnya berfikir solusi serta aksi. Karena mengantisipasi adalah langkah yang paling tepat, dari pada sekedar berargumentasi. 

Peran Digitalisasi

Menurut saya tekonologi di era digitalisasi sangat berperan penting dalam penyebaran informasi  tentang isu perubahan iklim. Misalnya membantu masyarakat untuk sadar akan penting menjaga lingkungan/ alam sekitarnya agar tetap asri dan mengurangi aktifitas yang dapat menambah emisi gas rumah kaca. Di samping itu digitalisasi juga sangat membantu stakeholder/ pemerintah dalam  merencanakan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dimasa mendatang. 

The Role of Digitization
Image from Google

Langkah Partai Demokrat

Menurut saya, Partai Demokrat ke depannya harus didorong oleh langkah-langkah yang dapat  mengantisipasi resiko dari perubahan iklim dan dalam mencapai target nasional dan global tersebut berikut upaya-upaya yang disarankan: 

  1. Partai Demokrat harus mendorong pemerintah lebih meningkatkan target restorasi lahan gambut dan kehutanan karena faktor penyumbang emisi terbesar di negara kita adalah pada dua sektor tersebut.
  2. Partai Demokrat harus mendorong pemerintah dalam melegitimasikan hak dan pengakuan masyarakat adat dalam pengelolaan hutan adat. Karena masyarakat dalam mengelola hutan akan lebih cenderung berkelanjutan, dibandingkan swasta yang lebih cenderung eksploitatif.
  3. Mendorong pemerintah untuk selalu mengembangkan energi terbaharukan.
  4. Memberikan pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat desa untuk mulai memanfaatkan sumberdaya lokal sebagai sumber energi.
  5. Pembenahan tata ruang daerah yang sinergi dengan konsep green economic.
  6. Penegakan hukum yang tegas bagi pelaku dan perusahaan pembalakan liar dan pembakaran lahan.
  7. Lebih intensif pada peningkatan produktifitas bahan pangan dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi yang terus berkembang namun tetap dalam faedah yang memperhatikan lingkungan.

 

Tulisan adalah opini dari Didi Al-Amin, peserta pada Workshop Demokrat dan Digitalisasi Perubahan Iklim, Holiday Inn Pasteur Bandung, 14-16 Maret 2018.