Workshop “Social Market Economy”

Bandung, 13-15 Mei 2016
Message16.05.2016
Social Market Economy

Pemahaman singkat mengenai Liberalisme seringkali menyisakan anggapan bahwa gagasan ini tidak memiliki tempat bagi aspek sosial. Di Jerman, gagasan ekonomi pasar sosial (social market economy) muncul pasca Perang Dunia II sebagai alternatif penggabungan dimensi material (komersial) yang merupakan konsekuensi ekonomi pasar dan dimensi sosial atau kemanusiaan. Untuk memahami gagasan ekonomi pasar sosial secara lebih lanjut, Friedrich Naumann Foundation bersama dengan Freedom Institute, Youth Freedom Network, Students for Liberty (SFL) dan suarakebebasan.org mengadakan workshop “Social Market Economy” di Nexa Hotel, Bandung pada tanggal 13 – 15 Mei 2016. Workshop ini dihadiri oleh 24 peserta dari sejumlah universitas di Bandung dan Jakarta.

Acara dibuka dengan pemaparan dari Dr. Deni K. Sunjaya, dr., DESS selaku Wakil Ketua Bidang Keahlian Kesehatan, Dewan Riset Daerah Jawa Barat. Presentasi Dr. Deni utamanya menjelaskan mengenai kebijakan kesehatan di Indonesia. Desentralisasi yang menjadi karakter pemerintahan di Indonesia sejak Reformasi memang banyak berpengaruh terhadap proses demokratisasi dan peningkatan kapasitas pejabat lokal. Namun, di sisi lain desentralisasi pada awalnya ternyata tidak banyak berpengaruh terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia. Dalam hal ini, salah satu capaian penting kebijakan kesehatan Indonesia adalah dirumuskannya RUU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) pada masa pemerintahan Presiden Megawati. RUU SJSN ini pula yang akhirnya bertransformasi menjadi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Terkait dengan topik ekonomi pasar sosial, sejumlah pertanyaan mengenai efektivitas dan keanggotaan JKN pun dilontarkan oleh peserta workshop.

Social Market Economy
Dr. Deni K. Sunjaya, dr., DESS
Social Market Economy
Peserta workshop

Sore harinya, workshop dibuka secara resmi oleh Program Officer FNF Indonesia, Muhammad Husni Thamrin. Adapun tujuan dari workshop ini adalah memperkenalkan gagasan ekonomi pasar sosial melalui diskusi dan penerapannya di Indonesia. M. H. Thamrin pun menjelaskan bahwa kata “sosial” dalam gagasan ekonomi pasar sosial tidak berarti sama dengan gagasan “sosialisme”. Ekonomi pasar sosial merupakan pengembangan dari prinsip Ordo Liberalismus yang berlandaskan tiga prinsip, yaitu individualitas, subsidiaritas dan solidaritas. Gagasan yang dikembangkan oleh para pemikir Jerman ini pada dasarnya tidak hanya menitikberatkan pada aspek ekonomi semata, namun juga pada keadilan sosial dan persoalan kebebasan. Acara kemudian dilanjutkan dengan games dan perkenalan peserta serta screening film pada malam harinya.

Social Market Economy
Pembukaan oleh Program Officer FNF Indonesia, M H. Thamrin
Social Market Economy
Presentasi kelompok

Menginjak hari kedua, para peserta lebih diajak terlibat dalam diskusi kelompok. Fasilitator Muhammad Ikhsan membagi diskusi menjadi empat kelompok berdasarkan topik, yaitu asuransi kesehatan (BPJS Kesehatan), Jaminan Hari Tua (BPJS Ketenagakerjaan), pengampunan pajak (tax amnesty) dan hubungan industrial yang menyangkut Upah Minimum Regional (UMR). Para peserta kemudian mengaitkan keempat kebijakan tersebut dengan prinsip-prinsip Liberalisme serta juga menjelaskan tantangan dan solusi kebijakan. Sesi hari kedua ini berjalan dengan cukup interaktif. Berbagai pandangan berbeda mengenai keempat kebijakan tersebut diungkapkan oleh peserta workshop.

Hari terakhir workshop kembali diisi dengan diskusi kelompok. Berbeda dengan sebelumnya, diskusi kali ini dibagi berdasarkan konsep-konsep dalam gagasan Liberalisme, antara lain individual freedomrule of lawright to property, minimal government, equal opportunity, freedom of conscience, self-governance dan moral accountability. Acara diakhiri dengan penyerahan apresiasi terhadap dua orang peserta yang paling aktif menyuarakan kegiatan dalam media sosial dan penutupan oleh Program Coordinator FNF Indonesia, Lantip Prakoso.

Social Market Economy
Penyerahan apresiasi kelompok terbaik oleh Program Coordinator FNF Indonesia, Lantip Prakoso