Diskusi Publik “Hayek, Kaum Intelektual dan Populisme Politik”

Message12.05.2016
Diskusi Publik “Hayek, Kaum Intelektual dan Populisme Politik”

Friedrich Hayek merupakan salah satu pemikir Liberal yang berpengaruh pada masanya. Gagasannya mengenai kebebasan dan implementasinya dalam sistem ekonomi menginspirasi kebijakan sejumlah pemimpin dunia. Dalam rangka memperingati Hari Lahir Friedrich Hayek (8 Mei 1899 – 23 Maret 1992), Friedrich Naumann Foundation bersama dengan Freedom Institute, Youth Freedom Network dan suarakebebasan.org mengadakan Diskusi Publik dengan tajuk “Hayek, Kaum Intelektual dan Populisme Politik”. Diskusi diadakan di Ciputat School, Futsal Camp, Tangerang Selatan.

Diskusi dibuka oleh sambutan singkat dari Program Officer FNF Indonesia, Muhammad Husni Thamrin. Dalam sambutannya, M.H. Thamrin mengungkapkan tujuan kegiatan diskusi ini, yaitu untuk memperkenalkan gagasan Hayek ke dalam diskusi terbuka dan melihat relevansi gagasan tersebut saat ini. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan presentasi dari pembicara Fadly Noor M. Azizi, Ketua Liberty Studies. Fadly memaparkan profil singkat Friedrich Hayek dan kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan. Memperoleh gelar Doktor secara berturut-turut dari Universitas Vienna di bidang hukum pada tahun 1921 dan di bidang politik (1923), beberapa pencapaian penting Hayek adalah pendirian Mont Pelerin Society (MPS) pada tahun 1947 dan hadiah Nobel untuk karyanya bersama dengan Gunnar Myrdal pada tahun 1974. Terkait topik diskusi, Fadly mengungkapkan bahwa salah satu tesis penting Hayek adalah bahwa manusia memiliki keterbatasan pengetahuan. Tesis Hayek mengenai spontaneous order menjelaskan bahwa manusia seharusnya dapat saling berinteraksi untuk menghasilkan kemajuan tanpa adanya intervensi. Hal inilah yang dituangkan Hayek ke dalam bukunya “The Road to Serfdom” (1944). Dalam bukunya tersebut, Hayek mengkritik tren intervensi dalam kebijakan sejumlah negara di tengah Perang Dunia II. Gagasan Hayek yang terbilang berani saat itu mengakibatkan  dirinya mengalami pengucilan akademik dan intelektual karena menentang tren kebijakan, khususnya yang dikembangkan oleh John Maynard Keynes. Beberapa tulisan Hayek selanjutnya kemudian membahas kekuatan kaum intelektual dan bagaimana mereka selama ini cenderung berpihak kepada gagasan Sosialisme. Untuk itu, Hayek pun mengumpulkan kaum akademisi dan ekonom di sebuah hotel di pegunungan Pelerin, Swiss hingga akhirnya membentuk perkumpulan “Mont-Pelerin Society”.

Diskusi Publik “Hayek, Kaum Intelektual dan Populisme Politik”
Perwakilan FNF dan Kemenkumham
Diskusi Publik “Hayek, Kaum Intelektual dan Populisme Politik”
Fadly Noor M. Azizi, Ketua Liberty Studies

Gagasan Hayek mengenai kebebasan dalam ekonomi pasar akhirnya menemukan momentumnya pada tahun 1970an. Periode tersebut diwarnai oleh krisis ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi yang stagnan dan peningkatan jumlah pengangguran. Mazhab Keynesian yang mengandalkan peran negara dalam sistem ekonomi pun tidak dapat mengatasi gelombang krisis tersebut. Sebagai implikasinya, muncul kebijakan sejumlah pemimpin dunia yang kembali melihat ke arah ekonomi pasar, seperti Ronald Reagan, Margaret Thatcher dan Deng Xiao Ping.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan Muhammad Iksan dari Youth Freedom Network dan suarakebebasan.org mengenai prinsip-prinsip Liberalisme dan relevansinya dengan pemikiran Hayek. Dalam hal ini, terminologi “Liberalisme” seringkali memiliki pemaknaan negatif. Namun, sebenarnya pemikiran Liberalisme memiliki berbagai dimensi yang berbeda. Dilihat dari asal pemikirannya, Liberalisme Klasik mengacu pada kebebasan dan kepemilikan individu (private property). Sementara itu, “Libertarianisme” berlandaskan pada prinsip kebebasan pasar dan peran minimal negara. “Liberalisme” juga berkembang ke dalam prinsip kebebasan (freedom) dan welfare state, seperti halnya negara-negara Skandinavia. Di lain pihak, terminology “Neoliberalisme” seringkali berkonteks negatif dan mengacu pada Washington Consensus di akhir tahun 1980an. Gagasan Hayek dekat dengan pemikiran Liberalisme Klasik yang mengacu pada kebebasan individu, adanya spontaneous order dan peran terbatas dari negara.

Diskusi Publik “Hayek, Kaum Intelektual dan Populisme Politik”
Muhammad Iksan, Youth Freedom Network & suarakebebasan.org

Diskusi dilanjutkan dengan Tanya jawab antarpeserta. Beberapa pertanyaan yang muncul adalah terkait penggusuran di Jakarta belakangan ini, relevansi pemikiran Hayek dengan “creative destruction” Joseph Schumpeter hingga “the end of history” Francis Fukuyama. Keterbatasan dalam pengetahuan yang seharusnya mendorong kebebasan dalam berinteraksi menjadi bagian penting dari diskusi publik kali ini. “The mind cannot foresee its own advance.”

Diskusi Publik “Hayek, Kaum Intelektual dan Populisme Politik”
Diskusi peserta