Diskusi Publik: Kampanye Negatif dan PILKADA (2)

KAMPUS UII Yogyakarta
Message10.11.2015
Diskusi Publik: Kampanye Negatif dan PILKADA (2)

Senin, 2 November  2015 - Telah dilaksanakan kegiatan diskusi publik di Kampus S2 Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Mengundang publik dan khususnya Mahasiswa yang tergabung dalam lembaga pers kampus.

Bekerja sama dengan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) , diskusi publik ini masih mengangkat tema “Pemilu dan Kampanye Negatif” yang menghadirkan Awigra (SEJUK), Titi Anggraini (PERLUDEM) dan Darmanto (BPPKI - Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika) sebagai panelis dalam diskusi tersebut. Dipandu oleh Tommy Apriando sebagai moderator yang merupakan anggota dari Aliansi Jurnalis Independen Jogjakarta.

Diskusi dibuka dengan penegasan kembali contoh dan fenomena yang ada dari kampanye negative. Selanjutnya mengenai perspektif masing-masing panelis dalam memandang fenomena tersebut dikaitkan dengan citra kandidat dan reaksi dari masyarakat.

Darmanto berpendapat bahwa kampanye negatif selalu dikhawatirkan bisa berdampak buruk bagi proses demokrasi dan mengurangi tingkat pemilih dalam pemilu, namun anggapan demikian tidak selamanya benar. Intinya ada beberapa contoh kasus yang terjadi baik di dalam atau luar negeri, menurut penelitian Wesleyan Media Project Kampanye negative bukanlah hal yang baru dan tidak selalu berdampak negative, malahan bisa menjadi motivasi orang untuk menggunakan hak pilihnya. Darmanto menambahkan bahwa ketegangan justru banyak terjadi di Pemilihan Presiden dibandingkan Pemilihan Kepala Daerah. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, yakni Kampanye tingkat daerah sudah diatur secara ketat penyelenggaraannya selain itu jarak ruang antara pendukung relatif dekat sehingga tingkat kehati-hatian untuk melakukan kampanye secara negatif lebih tinggi.

Kegiatan ini didukung juga oleh Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonesia, dihadiri langsung oleh Ibu Eny Nurwihati dari Divisi Kerja Sama Luar Negeri.