Diskusi Publik tentang Taman Nasional

Tantangan Konservasi, Peluang Ekonomi, dan Menjaga Stabilitas Iklim
Message22.12.2015
Diskusi Publik tentang Taman Nasional
Para Pembicara Sesi Hari ini

Kawasan Taman Nasional tidak hanya berfungsi sebagai ruang konservasi, tetapi juga dapat memberi manfaat secara sosial, ekonomi, jasa lingkungan/ekologis, dan perubahan iklim. Total 51 Taman Nasional yang ada di Indonesia perlu mendapat perhatian yang serius dan payung hukum yang jelas.

Komitmen untuk menjaga kawasan Taman Nasional ini harus menjadi dasar komitmen pemerintah dalam menjalankan program mitigasi maupun adaptasi terhadap perubahan iklim. Komitmen pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi karbon dari target 26% menjadi 29% persen pada tahun 2020 semakin menempatkan hutan dan terlebih kawasan konservasi atau kawasan Taman Nasional menjadi penting sebagai kawasan yang mampu menyerap buangan gas karbon.

Beberapa point tersebut menjadi tema pembicaraan dalam diskusi publik tentang perubahan Iklim, 21 Desember 2015, membahas kertas kebijakan tentang Taman Nasional: Tantangan Konservasi, Peluang Ekonomi, dan Menjaga Stabilitas Iklim, yang ditulis oleh seorang pemerhati perubahan Iklim, Yani Saloh. Buku kecil yang diterbitkan oleh Friedrich Naumann Stiftung for Freedom Indonesia tersebut ditujukan sebagai sebuah masukan bagi mahasiswa, akademisi, jurnalis, maupun pengambil keputusan dan politisi, terkait dengan kebijakan pemerintah di sector hutan dan kawasan konservasi, terutama Taman Nasional.

Diskusi diikuti oleh lebih kurang 50 orang peserta yang berasal dari mahasiswa, jurnalis, dan politisi dan diselenggarakan di Anomali Coffee, Menteng, Jakarta Pusat. Diskusi tersebut dihadiri pula oleh dua orang pengamat dari Kementerian Hukum dan HAM. hadir sebagai pembicara adalah Ibu Gracia Paramita, pemerhati dan penggiat isu yang terkait perubahan iklim dan pengajar pada London School of Public Relation, Sandy Nayoan, salah satu ketua organisasi pemuda Garda Bangsa, dan M. Husni Thamrin, program officer pada FNF Indonesia.

Dalam diskusi dan tanya jawab, peserta diskusi banyak menanyakan tentang komitmen pemerintah di bidang lingkungan dan pemeliharaan iklim, tata ruang kota dan ruang hijau serta persoalan hutan yang terkait dengan illegal logging serta keterkaitan hutan dengan masyarakat sekitar hutan konservasi atau Taman Nasional yang terkadang masih mengandalkan mata pencarian dan ekonomi dari hasil alam yang ada di hutan tersebut.

Tiga orang pembicara sepakat bahwa komitmen dan keperdulian terhadap iklim harus diiringi dengan sosialisasi, terutama terhadap aparat pemerintah dan politisi yang terkait dengan pengambilan keputusan. Sosialisasi terhadap unsur masyarakat yang lain pun tetap diperlukan, terutama kelompok muda dan mahasiswa.

Jakarta, 21 Desember 2015

Muhammad Husni Thamrin - Program Officer FNF Indonesia

Diskusi Publik tentang Taman Nasional
Para Pembicara Sesi Hari ini
Diskusi Publik tentang Taman Nasional
Program Officer FNF M. Husni Thamrin menjelaskan tentang pentingnya eksistensi Taman Nasional
Diskusi Publik tentang Taman Nasional
Foto Peserta bersama Pembicara