FNF Blog 4: Pameran Buku Frankfurt Mengusung Kebebasan Berbicara

oleh Endy M. Bayuni
Message15.10.2015
FNF Blog 4: Pameran Buku Frankfurt Mengusung Kebebasan Berbicara

Pameran Buku Frankfurt 2015 dibuka hari Selasa malam bertemakan Kebebasan Berekspresi dan menampilkan Indonesia sebagai tamu kehormatan.Seharusnya Indonesia berbagi panggung dengan Salman Rushdie, penulis buku Satanic Verses (Ayat-ayat Setan) yang tahun 1989 menerima fatwa hukum mati dari Iran karena dianggap menghina Islam. Rushdie akhirnya hanya hadir dijumpa pers singkat karena masalah keamanan, sementara Iran mengundurkan diri sebagai protes.Indonesia hadir sepanjang Frankfurt Buchmesse sampai hari Minggu. Pavilion Indonesia menjadi atraksi tersendiri di Messe, balai sidang yang sangat luas, menampilkan lebih dari 200 buku yang diterjemahkan ke Bahasa Jerman dan Inggris. Ada juga diskusi buku, pegelaran tarian dan suguhan makanan dan minuman Indonesia.

Direktur Frankfurt Buchmesse Juergen Boos dalam sambutannya mengingatkan masih banyak hambatan untuk berekspresi dibanyak bagian dunia yang mengalami kekerasan. Tugas penulis, dan penerbit, merubah kondisi ini melalui pemikiran dan hasil karyanya.Pameran Buku Frankfurt, menurutnya, adalah ibukota global untuk pemikiran.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan dalam pidato sambutannya mengajak dunia untuk melihat lebih jauh dari sekedar kebebasan berbicara dengan mengadakan dialog mengenai perbedaan.“Tujuan kami yang lebih penting adalah untuk mengundang, mengajak Eropa dan dunia kedalam sebuah percakapan yang lebih luas. Terutama di masa ini, ketika ribuan orang dari luar Eropa datang berpindah dan diantaranya sudah jadi bagian dari kehidupan disini” jelasnya yang disambut tepuk tangan hadirin.“Sumbangan kami untuk meneguhkan, bahwa kebudyaan berkembang melalui sikap terbuka. Kebudayaan adalah percakapan yang terus menerus,” demikian Anies.

Kalau sebelumnya perusahaan penerbit Indonesia datang ke Frankfurt lebih untuk belanja hak cipta buku yang akan mereka jual di Indonesia, sekarang mereka tidak mau kalah dengan menjual buku terbitan Indonesia. Keberadaan puluhan penulis dari Indonesia banyak membantu mereka memperkenalkan Indonesia. Beberapa buku yang banyak mengambil perhatian di Frankfurt diantaranya “Pulang” tulisan Laila Chudori, “Amba” tulisan Laksmi Pamuntjak dan “Luka itu Cantik” karya Eka Kurniawan. Penerbit Mizan sudah menjual sejumlah bukunya didunia internasional. Bukunya yang paling laris, “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata, sudah diterjemahkan ke 20 bahasa, termasuk yang paling baru ke Bahasa Arab. Sementara agama Islam bagi anak terbitan Mizan sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris dan dijual di Malaysia, Australia dan Turki.

Ketua Komite Nasional Indonesia untuk Frankfurt Book Fair, Goenawan Mohamad juga mengembangkan tema dialog untuk mencapai kemerdekaan dan menaklukan kezaliman, dengan menggunakan cerita klasik Malang Sumirang sebagai contoh.“Banyak hal yang bisa membangun percapakan antara kita, meskipun kita datang dari benua yang berjauhan; misalnya dalam menampik kekejaman, merasakan sakitnya penindasan, dan mengalami paradoks kekuasaan,” menurut wartawan senior Tempo ini.

“Kita menulis untuk menegaskan kesetaraan manusia. Kita menulis untuk menghidupkan percakapannya. Dan dengan demikian kita menulis juga untuk menumbukan kemerdekaannya.”

Penulis adalah wartawan senior The Jakarta Post. Keberadaannya di Frankfurt atas undangan Yayasan Friedrich Naumann.