FNF Blog 5: ‘Pulang’, Sebuah Sukses yang Tidak Pernah Terbayangkan

oleh Endy M. Bayuni
Message16.10.2015
FNF Blog 5: ‘Pulang’, Sebuah Sukses yang Tidak Pernah Terbayangkan

Leila Chudori adalah salah satu dari segelintir penulis Indonesia yang paling banyak dicari sepanjang pameran buku di Frankfurt minggu ini. Jadwalnya penuh sejak Frankfurt Buchmesse 2015 dibuka hari Selasa, dengan penampilan dalam diskusi buku sampai diskusi sejumlah topik, termasuk tentang tragedi yang menimpa bangsa Indonesia tahun 1965, masalah imigrasi Eropa dan extremisme agama.

Leila sudah berada di Eropa sejak 7 Oktober dalam rangka mempromosikan bukunya “Pulang”. Awalnya ia ke Amsterdam untuk peluncuran terjemahan bahasa Belanda, Setelah Frankfurt dengan peluncuran edisi Bahasa Jerman, tur promo akan berlanjut disejumlah kota di Jerman sampai 25 Oktober. Selama perjalanan, ia didampingi putrinya Rain yang berusia 21 tahun dan yang juga mengikuti jejak ibu dengan telah menerbitkan buku kumpulan cerpennya.

FNF Blog 5: ‘Pulang’, Sebuah Sukses yang Tidak Pernah Terbayangkan

Kamis sore, perusahaan penerbit bahasa Jerman mengadakan resepsi kecil merayakan kesuksesannya di-stand yang dibuka khusus untuk “Pulang” di Frankfurt Buchmesse. Disela-sela menyapa para teman dan pengungjung, Leila sempat ngobrol dengan saya.

“Sama sekali tidak,” jawabnya ketika ditanya apakah ia pernah membayangkan bukunya akan sukses seperti ini.

Leila cepat menambahkan bahwa dia bukan satu-satunya penulis Indonesia yang menikmati sukses di Frankfurt. Ia menyebut Laksmi Pamuntjak dan Eka Kurniawan diantara mereka yang juga mendapatkan banyak perhatian selama pameran dimana Indonesia menjadi tamu kehormatan.

“Saya menulis buku ini karena merasa terpanggil. Saya sebenarnya agak lamban karena memerlukan 6 tahun untuk menyelesaikannya,” demikian Leila.

Bukunya sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, Perancis, Belanda, Jerman dan Itali. Hak untuk bahasa Inggris, yang dipegang penerbit Yayasan Lontar, sudah dibeli oleh perusahaan penerbit Amerika yang akan membantu untuk mendobrak pasar Amerika.

“Pulang” menceritakan sepak terjang sejumlah orang Indonesia yang berada di luar negeri ketika kasus G30S/PKI terjadi. Karena pergolakan politik, mereka tidak bisa kembali ke tanah air selama puluhan tahun. Mereka menjadi eksil politik yang rindu pulang.

“Ini fiksi yang diinsipirasikan oleh kisah nyata para eksil politik,” menurut Leila, yang mengenal mereka pertama kali di Paris ketika bertugas sebagai wartawan Tempo.

Ia baru sadar kalau ada orang Indonesia bernasib seperti itu. Kembali dari Paris, ia menyadari kalau di Tempo ada satu atau dua wartawan yang bekas Tahanan Politik yang pernah mendekam di Pulau Buru. Rezim Soeharto sebenarnya melarang eks-Tapol bekerja sebagai jurnalis, sehingga di Tempo mereka menggunakan nama samaran.

“Saya menyadari ada sesuatu yang salah dengan negeri kita ini,” tambahnya

Yang akhirnya mendorong Leila untuk menulis cerita mereka adalah ketika Presiden Abdurrahman Wahid bertemu dengan para eksil politik dalam lawatan ke Eropa, dan menanyakan bagaimana ia bisa membantu. Para eksil menjawab: “Kami minta paspor hijau, Pak.”

Ini yang mengharukannya karena setelah dikucilkan oleh negaranya sendiri, mereka tetap cinta tanah air. “Saat itu saya memastikan saya harus menulis cerita ini,” kata Leila.

Kok timing-nya bisa tepat dengan Frankfurt dan juga tahun ini Indonesia memperingati 50 tahun tragedi nasional?

“Itu benar-benar faktor kebetulan. Ketika buku saya selesai tahun 2012, keikutsertaan Indonesia di Frankfurt kan belum diputuskan,” kata Leila.

Ia juga cepat-cepat menyelesaikan buku agar dapat diluncurkan tanggal 12 Desember 2012 (12-12-12), saat ia merayakan usianya yang ke-50.

Bagi para fans, Leila Chudori berbagi rahasia: Ia sedang menyelesaikan dua buku lagi. Satu mengenai kasus penculikan mahasiswa tahun 1998, dan yang satu lagi kumpulan cerita pendek. Kemungkinan novel 1998 akan selesai lebih dulu.

“Mudah-mudahan tahun depan diluncurkan,” kata Leila.

Ketika putrinya Rain ditanyakan pendapat mengenai sukses ibunya,  ia hanya tersenyum. “Kan aku ikut jalan-jalan,” jawabnya singkat.

Penulis adalah wartawan senior The Jakarta Post. Ia berada di Frankfurt dalam rangka pameran buku atas undangan Yayasan Friedrich Naumann.