IAF Seminar: NGOs – Winning Support for Ideas and their Political Implementation

Gummersbach, Germany, March 12-25, 2016
Message21.06.2016
IAF Seminar : NGOs – Winning Support for Ideas and their Political Implementation

NGO pada umumnya adalah organisasi berbasis nilai (value-based organizations) yang bergantung kepada, baik sebagian atau keseluruhan, bantuan amal (charitable donations) dan pelayanan sukarela (voluntary service). NGO menjalankan berbagai peran di masyarakat dan hampir tidak ada area yang tidak tersentuh, apakah itu sumber daya alam, keuangan, pengembangan sosisal, HAM, kebudayaan, pendidikan dan lingkungan. NGO telah memainkan peranan  yang efektif dalam  merubah skenario dunia saat  ini baik dengan menetapkan agenda atau dengan mendesak pemerintah untuk melakukan sesuatu  yang mereka perlukan.

Saat ini NGO semakin mengidentifikasi diri mengikuti pada kebutuhan untuk melaksanakan rencana dan pedoman ataupun program yang dirancang oleh donor. Hal ini bisa dianggap positif yaitu kita tidak perlu repot memikirkan apa yang harus dikerjakan dikarenakan sudah terrencana oleh pendonor. Selain itu, kita menjadi bagian penting dalam kesuksesan program dari pendonor. Namun, ini membuat kita tidak bisa berjalan sendiri dengan ide dan strategi yang kita punya untuk mengembangkan NGO kita sendiri. Saya saat ini sedang mendirikan satu lembaga non profit yang bertemakan tentang perubahan iklim. Saya ingin lembaga ini bisa berkembang dan mampu mempertahankan peran dan fungsinya di masyarakat sesuai dengan visi dan misi di awal lembaga ini dibentuk. Bagaimana kita bisa memastikan bahwa kita masih mempertahankan identitas dan fokus pekerjaan pada tujuan NGO kita berdiri, menjadi faktor yang mendasari saya sangat antusias mengikuti seminar IAF yang diadakan oleh FNF denga tema Strengthening NGOs: Winning Support for Ideas dan their Political Implementation.

Hari pertama setelah seluruh delegasi tiba di Gummersbach, kami disambut sangat baik oleh Bettina Solinger (Direktur IAF). Beliau menjelaskan sebagian besar outline kegiatan yang akan kami jalani selama 12 hari, sekaligus perkenalan dengan dua fasilitator yaitu Arno Keller dan Tauseeq Haider. Setelah itu, seminar dimulai dan kami pun mulai masuk ke sesi perkenalan yaitu apa dan bagaimana NGO masing-masing delegasi telah berjalan. Kami terdiri dari 24 orang yang berasal dari 22 negara di dunia. Saya menjadi satu-satunya yang latar belakang NGO nya di bidang perubahan iklim. Ini sejujurnya menjadi satu kelebihan bagi saya karena menjadi berbeda dan gampang dikenal oleh peserta maupun fasilitator (para peserta lainnya merupakan delegasi dari NGO di bidang Liberalisme dan HAM), namun di sisi lain ini merupakan kelemahan dikarenakan saya harus dua kali lipat usaha untuk benar- benar paham dan mengerti istilah-istilah baru di seminar ini.

Masing-masing delegasi memiliki kesempatan untuk presentasi mengenai profil NGO dimana dia berasal. Berhubung NGO yang saya wakilkan Indonesia Youth Team on Climate Change masih bisa dikatakan sangat baru dan belum terstruktur, saya mempresentasikan mengenai NGO dimana saya bekerja yaitu ECN (Energy research Centre of the Netherlands). Energy research Centre of the Netherlands (ECN) adalah rumah bagi lebih dari 500 tenaga ahli dan merupakan lembaga penelitian energi terbesar di Belanda yang didirikan pada tahun 1955. Departemen Studi Kebijakan ECN adalah penasihat eksternal utama pemerintah Belanda dalam bidang energi dan iklim, dan secara reguler memberikan masukan kebijakan secara internasional kepada pemerintah, organisasi, dan sektor swasta. ECN telah bekerjasama dengan pemerintah Indonesia mengenai   isu-isu energi selama hampir satu dekade, terutama melalui proyek CAREPI, CASINDO dan Mitigation Momentum.

Di seminar hari pertama, topik generalnya ialah mengenai refleksi sudah sejauh mana NGO berperan di sektor masyarakat, politik maupun pendonor. Sesi ini sangat menarik ketika kami melakukan simulasi “Information Market” mengenai bagaimana personaliti danself- perception NGO itu sendiri berbeda dengan cara orang lain memandang. Simulasi ini memberikan kita beberapa informasi penting mengenai bagaimana masyarakat sipil, donor dan politisi mengevaluasi pekerjaan kita. Apakah sudah sesuai dengan target beneficial

IAF Seminar : NGOs – Winning Support for Ideas and their Political Implementation
Information Market NGO di mata Donor, Politisi dan Masyarakat Sipil

Capaian atau pemahaman yang berbeda dengan tujuan dapat menyebabkan masalah penting untuk NGO, yaitu yang terkait dengan strategi dan rencana aksi, karena referensi untuk mengevaluasi pekerjaan membingungkan. Oleh sebab itu, ketika kita ingin mempertahankan stabilitas NGO, goal’s review   menjadi sangat penting agar organisasi dapat fokus pada kemampuan dan sumber dayanya.

Ada beberapa cara dan arti untuk memformulasikan tujuan sebuah organisasi. Apapun metode yang dipakai, di sini kami diajarkan untuk melihat bahwa tujuan ialah bagaimana cara mengekspresikan keinginan dan fokus organisasi baik dalam jangka panjang ataupun menengah. Salah satu contoh kalimat tujuan ialah “We develop a strategy, to (precise and measurable description of what you want to achieve) by (time frame) for (reason for your goal)”

Setelah mempresentasikan formulasi NGO masing-masing, di hari kedua kami belajar bagaimana menganalisis  kembali  struktur  NGO  untuk  mengembangkan  business  plan. Analisis struktur dapat dilihat melalui beberapa faktor yaitu produk NGO seperti apa, bagaimana komunikasi internal/eksternal, bentuk sumber pendanaan dan sumber daya manusianya seperti apa, serta sejauh mana hubungan NGO dengan pendonor. Faktor-faktor tersebut menjadi landasan untuk mengembangkan sebuah business plan. Business Plan hampir sama dengan  proposal  project  yang digunakan  untuk  mendapatkan  hibah atau bantuan dari pendonor. Skema dari business plan yang kami pelajari ialah harus memiliki ringkasan eksekutif , deskripsi dari profil NGO (visi, misi, tujuan, area fokus, dan kegiatan), target NGO, analisis dari beberapa NGO yang bergerak di bidang yang sama dengan kita, marketing plan dan implementasinya, serta  yang terakhir mengenai analisis keuangan.

Skema ini diajarkan dengan tujuan agar kita mengerti bagaimana membuat NGO kita lebih menarik di area fokus kita berada maupun di area lain.

Contohnya saya mempresentasikan bahwa NGO yang bergerak di bidang perubahan iklim dan lingkungan di Indonesia sudah sangat banyak, apa yang menjadi “daya tarik” untuk dibeli pendonor dan dijual ke pasar bagi IYTCC ialah fokus area kami yang untuk pemuda dan politikus. Peningkatan kesadaran masyarakat atas perubahan iklim saya rasa sudah banyak dilakukan oleh NGO lain , tetapi bagaimana rekomendasi atau inovasi itu ditampung untuk dijadikan policy paper atau bahkan menjadi undang-undang di Indonesia , itu yang menjadi tujuan IYTCC. Oleh karena itu, target grup kami ialah pemuda yang masih mengenyam pendidikan di kampus dan politikus muda di legislatif.

Topik yang saya pribadi sangat antusias untuk pelajari ialah Branding, “Apa yang kamu ingin orang lain katakan tentang dirimu saat kita tidak ada”.

1

Sering kali orang hanya mengartikan bahwa brand dari sebuah produk (atau dalam hal ini NGO) ialah logo atau simbol. Kita harus menyadari bahwa tidak semua orang ialah  ahli pragmatik yang hanya ketika melihat satu logo, dia akan mengerti maksud dan tujuan produk tersebut apa. Oleh karena itu gabungan dari pernyataan dan logo itulah yang disebut dengan brand.

5

Langkah-langkah memformulasikan sebuah brand ialah :

  1. Tentukan apa yang menjadi key point dari misi NGO
  2. Tentukan spesific target grup yang ingin kita capai
  3. Analisis apa yang menjadi kebutuhan target grup sehingga NGO bisa dianggap memenuhi kebutuhan melalui beberapa program kegiatan ataupun produk.
  4. Analisis bagaimana NGO lain (di fokus area yang sama) bekerja
  5. Tentukan apa competitive advantages NGO dalam satu kalimat

Setelah semua topik di atas, muncul pertanyaan, sebagus apapun tujuan, struktur, brand, dan lain-lain, apabila kita tidak memiliki kemampuan komunikasi yang baik terutama kepada pendonor, ini akan menjadi sia-sia. Kita pasti pernah dihadapkan pada situasi dimana kita harus mempresentasikan NGO kita ke masyarakat ataupun ke pendonor. Bagaimana cara mengomunikasikan siapa kita dengan waktu yang ditentukan, namun juga bisa menarik minat pendonor untuk mendanai NGO/project kita, itu bukan hal yang mudah. Komunikasi bukan hanya pertukaran kata-kata, tidak hanya berdasarkan pada ide kita sendiri.

Komunikasi merupakan siklus dari persepsi, perasaan, pikiran, keinginan, dan tindakan. Bentuk dari komunikasi bisa bermacam-macam seperti pidato, diskusi, debat, wawancara, dan lain-lain. Semua bentuk komunikasi tersebut akan menjadi baik ketika mengandung 3 dimensi ide, yaitu harus disampaikan terarah, menyenangkan/provokatif, dan  dipahami pendengar. Dalam seminar ini, saya diberi kesempatan melakukan simulasi “Elevator speech” , yaitu presentasi singkat tanpa toolsapapun ke pendonor dalam waktu 45 detik. Kita pasti pernah atau akan pernah berada dalam situasi, secara kebetulan bertemu dengan pendonor atau investor di tempat umum bahkan di lift dengan waktu yang sangat singkat, dan kita tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bisa bekerjasama dengan pendonor. Oleh karena itu, di seminar ini kami diajarkan bagaimana bisa merebut perhatian pendonor dengan waktu yang sesingkat itu namun bisa menjelaskan keseluruhan profil NGO kita. Ini sangat menyenangkan untuk saya karena secara tidak langsung menantang kemampuan marketing saya. Saya pada dasarnya sangat suka hal yang berhubungan dengan berkomunikasi dengan orang lain.

Di sela-sela seminar, kami mendapat langsung pengalaman dari pemateri tamu mengenai apa yang sudah kami pelajari selama seminar, seperti dari

  1. Wulf Pabst dari Consultant German Liberal Party mengenai Brand in Politics,
  2. Frederik Cyrus dari Students for Liberty mengenai pengalamannya memobilisasikan kapasitas dan pendanaan untuk memperkuat NGO
  3. Johannes Hillje  dari  Politics  and  Communication  Consultant  yang  berbicara mengenai Komunikasi melalui social media

Sama seperti seminar topik lainnya di IAF ini, kami juga diberikan program excursion ke beberapa tempat di Eropa yaitu Cologne, Aachen, Brussels dan Maastricht. Saya mengelompokkan 3 hal yang berkesan selama excursion, yaitu :

  1. Sightseeing

Kami mengunjungi gedung bersejarah seperti cathedral di Cologne, Henri-Chapelle American Cemetery and Memorial di Brussels, Three Countries Point di Aachen, dan Shopping Centre di Maastricht.

6

 

  1. Learning

Sembari mengunjungi tempat-tempat wisata, kami mengunjungi pusat penampungan pengungsi di Aachen dan bertemu langsung dengan Mr. Goffart (Program Officer of Refugee Program). Beliau menjelaskan bagaimana pengungsi diatur dan dilindungi hak asasinya selama tinggal di Aachen. Setelah itu kami juga bertemu dengan salah satu senator dan Wakil Presiden yaitu Mr. Alexander Miesen, dari Parlemen German Community di Eupen, Belgium. Kami belajar sejarah German Speaking Community lahir di Belgia. Selama beberapa hari di Brussels kami memiliki kesempatan untuk mengunjungi European  Parlemen, belajar mengenai bagaimana  peran  European Parlemen dalam pengembangan kerjasama dan HAM di seluruh dunia.

Kami juga mengunjungi kantor  FNF di  Brussels  selama 2  hari.  Di  sana kami disambut sangat baik oleh Anna Reineke, Program Coordinator. Selain beliau, kami juga mendengar pengalaman mengenai bagaimana cara memperoleh EU funding yang disampaikan langsung oleh Alba Cako (EU Liaison Manager), bagaimana mendapatkan dukungan dari Partai Demokrat di Eropa oleh Alina Garbova (Policy officer of EnoP), bagaimana mengembangkan ide-ide kita untuk NGO kita masing- masing oleh Vania Freitas (Advocay and Policy Coordinator, CONCORD) dan yang terakhir mendengar pemaparan dari Manager Campaigning and Capacity Building dari ALDE Party, yaitu Joakim Frantz.

IMG_8535

Satu pelajaran tambahan yang kami dapatkan di luar dari topik ialah, pengalaman menghadapi teror bom yang saat itu terjadi tidak jauh dari kantor FNF Brussels. Kami dihadapkan pada situasi yang cukup menakutkan, ditambah beberapa pemateri tidak bisa hadir karena teror bom. Saya cukup tenang ketika Kedutaan German dan FNF langsung mengambil tindakan cepat untuk mengkondusifkan keadaan yang lumayan kacau pada saat itu. Kami pun memanfaatkan momen itu untuk berbagi pengalaman bagaimana menghadapi kekacauan akibat bom di daerah masing- masing. Selain itu, kami melakukan video shoot mengenai apa arti “Freedom” dengan bahasa daerah asal, ssetelah sebelumnya menuliskan apa arti “Freedom” bagi diri sendiri.

  1. Friendship

Mengingat kami semua berasal dari daerah yang berbeda dan bertemu di seminar IAF ini untuk pertama kalinya, masa-masa kebersamaan ini cukup menyenangkan. Terutama ketika excursion, kami punya banyak kesempatan untuk mengenal satu sama lain. Kemana-mana tidak pernah terpisah dari grup, semua saling merasa dekat baik kepada sesama kamin maupun ke fasilitator seminar ini. Bagi saya ini salah satu nilai penting yang mungkin tidak akan saya dapatkan di Indonesia. Bagaimana masing-masing yang belum mengenal sebelumnya tetapi bisa peduli satu sama lain.

Setelah mengikuti seminar ini saya benar-benar bersemangat untuk membagikan apa yang saya dapat ke teman-teman saya di Indonesia. Oleh karena itu, tahap selanjutnya yang akan saya kerjakan ialah berbagi ke teman-teman yang organisasinya sudah berdiri ataupun sedang merintis untuk mulai menyusun strategi mengembangkan kapasitas organisasinya sendiri dan juga mempertahankan supaya tetap fokus pada tujuan organisasi tersebut didirikan. Saya sangat berterimakasih pada FNF Indonesia yang sudah memberikan kesempatan berharga ini untuk saya, semoga ke depannya semakin banyak anak-anak muda yang dapat belajar banyak dari negara lain dan menerapkan apa yang baik demi kemajuan negara dan bangsa ini.

Salam hormat, Elisabeth Montessory