Jurnalisme Iklim: Sebuah Seni Mengabarkan Krisis Perubahan Iklim

Diskusi Daring, Jakarta, 19 Agustus 2020
Events27.08.2020Tulisan Kontribusi dari Aljunaid Bakari
Laptop and Notepad
Nick Morrison, Unsplash

Fenomena Perubahan Iklim (Climate Change) telah menjadi problem serius bagi masa depan dunia, ancaman krisis perubahan iklim ini lantas memaksa perhatian dunia untuk sama-sama memikirkan solusi atas fenomena krisis ini. Sampai dengan saat ini setidaknya terdapat 3 (tiga) instrumen hukum Internasional sebagai wujud perhatian dunia terhadap fenomena ini dalam skala international antara lain: Pertama United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) disusun pada Konvensi Rio 1992, mulai berlaku secara hukum pada 21 Maret 1994, diratifikasi oleh 197 negara. Indonesia meratifikasi UNFCCC melalui UU 6/1994 Konvensi ini bertujuan menstabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer pada level yang dapat mencegah gangguan antropogenik berbahaya pada sistem iklim. Kedua Protokol Kyoto merupakan perjanjian internasional turunan dari UNFCCC yang diadopsi pada konferensi para pihak ketiga (1997) dan mulai berlaku secara hukum pada 16 Februari 2005, diratifikasi oleh 191 negara. Indonesia meratifikasi Protokol Kyoto melalui UU 17/2004, Ketiga Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change atau yang sering disingkat Paris Agreement yaitu kesepakatan negara-negara yang tergabung dalam Paris Agreement untuk berkomitmen menahan laju kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2°C dan melanjutkan upaya untuk membatasi kenaikan suhu hingga 1.5°C di atas suhu masa pra-industrial.

Faktanya kesepakatan-kesepakatan internasional tersebut belum berdampak signifikan terhadap fenomena-fenomena krisis perubahan iklim dan hanya menjadi peraturan di atas kertas, dan belum menjadi agenda yang diseriusi secara politik dalam bentuk kebijakan negara. Hal ini terindikasi dari terus meningkatnya temperatur dunia akibat produksi dan konsentrasi sejumlah gas kimiawi secara terus-menerus. Berdasarkan laporan World Meteorological Organization (WMO), terjadi peningkatan konsentrasi CO2 pada tahun 2018 sebesar 407.8 ppm, dibanding tahun sebelumnya yakni sebesar 405.5 ppm. Selain CO2, gas Metana dan Nitrous Oksida pun mengalami peningkatan konsentrasi. Konsentrasi gas Metana bersumber 40% dari sumber alami, dan 60% dari aktivitas manusia.

Dalam pada itu, menjadi sangat urgen untuk terus berinovasi tanpa harus menunggu sikap poltik negara dalam menyikapi krisis perubahan iklim ini. Krisis perubahan iklim pada dasarnya adalah krisis yang pasti bermuara pada problem-problem kemanusiaan. Pada titik ini, sangat penting melakukan langkah-langkah inovatif-kolaboratif dengan berbagai pendekatan yang dapat meyakinkan dan memberikan pemahaman aksi-aksi adaptasi dan mitigasi yang kongkrit dan dapat menjangkau semua lapisan masyarakat. Salah satu pendekatan yang menjanjikan dan mampu mengarusutamakan isu keadilan iklim adalah melalui tulisan persuasif dengan gaya populer; dimana di dalamnya mengedepankan pemberdayaan masyarakat, tindakan individu untuk berkontribusi pada masalah keadilan iklim, dan menceritakan pengalaman sukses dalam melakukan intervensi perubahan iklim.

Mengapa hal ini penting untuk dilakukan? Karena kita memang membutuhkan tindakan kolektif untuk mendorong perubahan sistem yang ingin kita lihat. kita dapat mendorong perubahan itu ke depan dengan mengangkat kisah-kisah positif, bersama-sama menciptakan solusi, bekerja menuju lingkungan yang sehat, serta membentuk sebuah sistem saling menghargai dan mencerminkan bahwa perilaku ini sebagai hal yang diinginkan secara sosial. Selama ini penjelasan tentang perubahan iklim selalu memperlihatkan peringatan akan adanya bahaya besar di masa depan. Berita-berita perubahan iklim dipenuhi dengan referensi tentang memburuknya kebakaran hutan, mencairnya gletser, hingga naiknya permukaan air laut. Membaca narasi-narasi tentang krisis perubahan iklim yang beredar mainstream saat ini tak ubahnya ibarat membaca komik siksa neraka yang beredar sekitar tahun 1990-an awal yang menjadi bacaan anak-anak SD waktu itu. Menakutkan!!! Hal ini tidak sepenuhnya salah namun, penekanan pada malapetaka dan kesuraman ini cenderung dapat membuat orang merasa tidak berdaya dan putus asa untuk dapat membuat perubahan. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Climagte Acces lembaga riset yang berfokus kepada solusi perubahan iklim menyatakan bahwa “pesan-pesan yang berisi ancaman mampu menangkap perhatian publik. Namun, rasa khawatir bukan motivator yang efektif untuk mendorong publik melakukan Tindakan yang nyata dan merubah perilaku. Hal tersebut justru membuat mereka pasrah dan merasa tidak berdaya.”  

Climate Journalism: Strategi Menyuarakan Krisis Perubahan Iklim melalui tulisan popular

Panelis pada Webinar Climate Journalism, 19 Agustus 2020
Panelis pada Webinar Climate Journalism, 19 Agustus 2020FNF Indonesia

Sebagai wujud komitmen terhadap perubahan iklim Climate Institute memandang penting untuk terus mendorong wacana-wacana perubahan iklim ini dengan memberikan sentuhan seni pemberitaan dengan gaya yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan “Doom and Gloom” yang selama ini menjadi arus mainstream wacana perubahan iklim terasa jauh dari kehidupan sehari-hari dan tidak solutif karna tidak dapat menjangkau seluruh level lapisan masyarakat sehingga menjadi tidak kongkrit.

Untuk kepentingan ini Climate Institute telah menginisiasi pewacanaan pendekatan penulisan popular melalui webinar yang bekerjasama dengan Friedrich Nauman Foundation (FNF), Kementrian Hukum dan HAM serta Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo. Pendekatan ini diarasa tepat untuk mengajak generasi muda yang mungkin mengetahui isu perubahan iklim pada tulisan atau berita sepintas pada televisi, namun belum diberikan ruang yang memupuk rasa keterlibatan yang mendorongnya secara individu atau secara kolektif untuk turut berkontribusi pada upaya penanganan perubahan iklim. Hadir sebagai panelis dalam kegiatan ini Denia Isetianti CEO Cleanomic, Haifa Inayah CEO Catch Me Up!, Hans Nicolas Jong Jurnalis Mongabay Indonesia; mereka adalah para anak muda keren influencer yang telah cukup sukses menjadikan wacana-wacana perubahan iklim ini sebagai habitus laku keseharian.

Beberapa poin penting yang menjadi simpulan dari webinar ini, merekomendasikan strategi mengabarkan krisis perubahan iklim yang berfokus pada solusi, hal ini merupakan sebuah seni mengabarkan krisis perubahan iklim dengan lebih soft, tidak hanya melaporkan permasalahan perubahan iklim itu sendiri namun dengan mengabarkan dan menunjukkan solusi-solusi apa saja yang berhasil dicapai berdasarkan bukti-bukti konkret. Model ini dianggap dapat menjadi alternatif pemberitaan yang dapat meningkatkan minat publik terhadap subjek dari krisis perubahan iklim. Hal ini didasarkan atas refleksi pola Doom and Gloom yang lebih fokus pada mengabarkan fakta-fakta perubahan iklim. Alih-alih dengan mengabarkan fakta dapat merubah sikap publik dari sikap acuh tak acuh terhadap dampak perubahan iklim, nyatanya semakin banyak fakta krisis perubahan iklim yang diketahui tidak lantas menjadikan lebih banyak yang peduli terhadap wacana ini.

Dalam pada itu, asumsi selama ini bahwa dengan mengetahui fakta-fakta mengenai perubahan iklim maka masyarakat akan semakin peduli adalah asumsi yang keliru. Faktanya seorang perokok aktif setiap kali membeli rokok selalu disuguhkan fakta pada bungkusnya bahwa merokok dapat membunuhmu, merokok mengancam lesehatan, namun hal itu tetap tidak menjadikan dia berhenti merokok dan tetap membeli lagi jika rokoknya habis.

Mempopulerkan Habitus Laku Positif Solusi Kongkrit Krisis Perubahan Iklim

Terdapat banyak alasan mengapa semakin banyak fakta perubahan iklim yang diketahui tidak serta merta meningkatkan kepedulian terhadap wacana ini, mengapa para stakeholder, politisi enggan berbicara lebih jauh terkait perubahan iklim, dikarenakan isu perubahan iklim ini dianggap terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari atau mereka merasa perubahan yang dilakukan tidak terlalu terlihat hasilnya bagi kehidupan mereka. Sebagaimana kabar di kitab-kitab suci bahwa perbuatan baik akan mendapat imbalan surga dan perbuatan jahat mendapat imbalan neraka tetap saja angka kriminalitas tetap tinggi. Wacana surga dan neraka ini sama seperti ancaman rokok dan ancaman perubahan iklim yang nanti terjadi di masa depan dimana tidak ada satupun individu yang telah merasakan masadepannya karenanya hal ini terasa sangat jauh dari kehidupan sehari-hari. Dimana setiap hari tiap-tiap individu pasti disibukkan dengan urusan-urusan domestiknya.

Dengan demikian, wacana-wacana perubahan iklim harus dikelola dan dikemas sedemikian rupa untuk sedekat mungkin dengan keseharian masyarakat, salah satu cara yang efektif adalah dengan menjadikan laku positif atas perubahan iklim ini menjadi habitus laku yang populer di kalangan masyarakat sehingga bisa dianut dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di era 4.0 ini peluang untuk mengkampanyekan hal ini menjadi sangat mungkin atas intersvensi teknologi informasi dan komunikasi.

Mongabay, Cleanomic, Catch Me Up!, sebagai Institusi/ Startup yang perwakilannya menjadi panelis dalam webinar yang diselenggarakan oleh Climate Institute ini merupakan sedikit dari Institusi/ Startup yang telah cukup berhasil meniti langkah ini, model jurnalisme yang ditempuh jauh berbeda dari yang ditawarkan oleh pemberitaan iklim konvensional yang cenderung muram dan suram dan berdasarkan hanya kepada aksi individu. Sebaliknya dengan mengabarkan contoh-contoh yang baik yang telah berhasil dilakukan. Mongabay.co.id misalnya sejak pertama kali diluncurkan upada 2012 silam telah memotret dan mengabarkan bagaimana kearifan lokal di berbagai wilayah di Indonesia yang eksitensinya mempunyai kontribusi kongkrit terhadap upaya-upaya mitigatif terhadap krisis perubahan iklim. Pola yang ditempuh Mongabay ini cukup efektif sebagai bentuk komunikasi perubahan iklim dengan memanfaatkan nilai-nilai yang dianut oleh seseorang atau komunitas, hal ini cenderung menjadikan seseorang atau komunitas tersebut menjadi peduli akan isu-isu perubahan iklim.

Berbeda dengan Mongabay, langkah yang dirintis Catch Me Up! dan juga Cleanomic merupakan pendekatan yang dapat dikatakan baru dan belum begitu “wajar” di Indonesia, sangat berbeda dengan platfrom-platfrom jurnalisme umumnya. Catch Me Up! merupakan platfrom pemberitaan berbentuk email newsletter yaitu pesan email yang dikirimkan berkala (setiap pagi, jam 06:00 WIB) ke orang-orang yang berlangganan. Tepat setiap pukul 06.00 WIB subscriber Catch Me Up! akan disuguhi sejumlah info-info menarik, ringan dan mudah dicerna. Catch Me Up menyasar kebutuhan kaum millennial anak muda yang punya banyak kesibukan dan hampir tidak memiliki waktu luang untuk mengupdate informasi. Catch Me Up! Hadir untuk membantu para Millennial ini untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sekelilingnya dengan lebih mudah, semudah membuka kotak masuk. Dengan menyasar kaum millennial, konten-konten newsletter Catch Me Up! cukup prospektif untuk mempopulerkan perilaku-perilaku positif yang ramah lingkungan serta menumbuh kembangkan kepedulian kaum muda terhadap krisis perubahan iklim dalam kesehariannya.

Seperti halnya yang dilakukan haifah inayah dengan Catch Me Up!nya, Denia Isetianti memulai  Cleanomic dari sebuah akun instagram pada tanggal 6 Maret 2018 yang kemudian dilanjutkan dengan meluncurkan podcast yang berjudul #cleanomicradio di minggu yang sama. Akun ini kemudian menjadi viral dan akhirnya Denia selaku founder memutuskan untuk mendirikan badan usaha untuk mengelola usaha ini secara professional, dan kemudian menjadi Startup yang mengabarkan contoh-contoh baik aktivitas sehari-hari yang berdampak mitigatif terhadap krisis perubahan iklim sekaligus menyediakan konten-konten menarik seputar bisnis ramah lingkungan, tips hidup yang minim karbon, dan mendedikasikan platform ini untuk mendukung para pengusaha yang mau menjadikan alam lestari sebagai bagian dari prioritas ihtiarnya dalam menghasilkan keuntungan. Dengan pendekatan seperti ini Cleanomic telah melakukan dua hal sekaligus, yakni mempopulerkan gaya hidup ramah lingkungan sekaligus memberikan contoh bahwa krisis perubahan iklim tidak selalu berseberangan arah dengan kepentingan ekonomi.

Sebagai simpulan akhir, upaya-upaya mempopulerkan laku positif yang peduli terhadap lingkungan seperti yang telah dirintis ketiga institusi diatas tentu bukan tanpa tantangan, krisis perubahan iklim merupakan isu lintas aneka bidang, menjadi jurnalis yang akan mengabarkan isu ini harus mempunyai sensitivitas terhadap ketertautan perubahan iklim dengan ragam isu lain, termasuk juga intervensi teknologi terhadap kemajuan zaman mengharuskan setiap individu untuk menjadi anak zamannya, dalam artian harus terus meng-upgrade diri agar dapat memahami perkembangan situasi terkini, apa yang dapat menarik perhatian publik sehinga dapat dikemas sedimikian rupa untuk kepentingan mempopulerkan perilaku positif sebagai perilaku yang digandrungi public dan diinginkan secara sosial.

 Rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan Climate Institute melalui webinar ini, semoga dapat memberikan kontribusi meningkat kesadaran potensi jurnalisme dikalangan anak muda untuk memobilisasi opini dan tindakan publik melalui berbagai platform, tertuma bagi mahasiswa Prodi PGMI IAIN Sultan Amai Gorontalo yang telah mengikuti rangkaian kegiatan webinar ini sebagai calon guru nanti bisa menjadi panutan bagi murid-muridnya menjadikan perilaku ramah lingkungan sebagai habitus laku keseharian.

Mari kita pastikan kita tidak berhenti di sini saja. Mari pastikan kegiatan ini menjadi starting poin yang memungkinkan sebanyak mungkin orang untuk bergabung dalam perjalanan kolektif yang bermakna. Mari kita optimis, berani, dan jujur dengan diri kita sendiri. Mari kita akui kebutuhan mendesak untuk mengubah sistem sosial ekonomi kita saat ini, termasuk cara kita berpikir, berperilaku dan hidup, bahwa kita membutuhkan tindakan kecil dan besar, dan segala sesuatu di antara keduanya. Mari kita terus berkolaborasi mengabarkan kebaikan mewabahkan perilaku ramah lingkungan.

Literatur

Giddens Antony (2011). The Politics of Climate Change. Polity Press. Cambridge

Ring Wendy (2015), Inspire Hope, Not Fear: Communicating Effectively About Climate Change and Health. Annals of Global Health, VOL. 81, NO. 3, 2015. Published by Elsevier Inc. di unduh dari situs https://climateaccess.org/resource/inspire-hope-not-fear-communicating-e...

World Meteorological Organization 2019. WMO statement on the state of the global climate in 2018. WMO-No. 1233, 1–44

World Meteorological Organization 2019. The Global Climate in 2015–2019. World Meteorological Organization, Geneva

Website:

BBC. (2019). Climate change: Greenhouse gas concentrations again break records. Diakses 19 Agustus, 2020, darihttps://www.bbc.com/news/science-environment-50504131

Mongabay (2020). Setahun mongabay Indonesia meluncurkan media lingkungan online di negara lain Diakses 19 Agustus 2020 dari https://www.mongabay.co.id/2013/04/25/

Reuters. (2019). How Greta Thunberg’s climate strikes became a global movement in a year. Diakses 19 Agustus, 2020, dari https://www.reuters.com/article/us-global-climate-thunberg/how-greta-thunbergs-climate-strikes-became-a-global-movement-in-a-year-idUSKCN1VA001.

Catch Me Up! (2020) diakses tanggal 19 agustus 2020 dari situs https://catchmeup.id/daily-catch-up/

cleanomic (2020) Diakses dari 19 Agustus 2020 dari situs https://cleanomic.co.id/about-cleanomic/