Kesempatan Besar Kembangkan Startup Energi Terbarukan

Diskusi Daring, Jakarta, 10 November 2020
Events12.11.2020
Poster Publikasi Kegiatan Webinar

Jakarta, 11 November 2020 – Di tengah pandemik COVID-19 yang menerjang kuat perekonomian negara di dunia, International Energy Agency (IEA) melaporkan bahwa energi terbarukan (ET), terutama di bidang kelistrikan, terus berkembang dibandingkan energi fosil lainnya.  Bahkan, IEA optimis bahwa di tahun 2025, energi terbarukan akan menjadi sumber pembangkit listrik terbesar di dunia dengan memasok sepertiga listrik dunia.

Perkembangan energi terbarukan yang menjanjikan ini sejalan dengan semangat dunia dalam memenuhi Kesepakatan Paris untuk mencegah kenaikan suhu bumi lebih dari 2 derajat Celcius. Krisis iklim (climate crisis) yang merupakan tantangan lingkungan di tingkat global mensyaratkan penanganan dan aksi bersama untuk menghindari dampak pada semua sektor dan semua kalangan. Setiap kelompok masyarakat berhak atas lingkungan yang bersih, asri, dan sehat, udara yang bersih, dan peluang peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup yang layak, sehingga paradigma climate justice menjadi penting.

Tren transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan dalam agenda penanganan krisis iklim ini tentu saja semakin membuka lebar untuk merintis perusahaan atau entitas bisnis yang bergerak di bidang ET. Partisipasi inklusif semua pihak, termasuk komunitas dan kelompok pemuda di berbagai level diperlukan untuk memastikan bahwa pembangunan berkelanjutan dapat menjangkau semua pihak.

Institute for Essential Services Reform (IESR) bekerja sama dengan Friedrich Naumann-Stiftung for Freedom (FNF) menggelar diskusi dari berjudul Financing Sustainable Energy Start up to Promote Climate Justice untuk membangun jejaring bagi angkatan muda yang berminat untuk mengembangkan usaha ET. Hadir sebagai pembicara adalah Khoiria Oktaviani, Manajer Komunikasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Aditya Mulya Pratama, Program Manager, New Energy Nexus, Yulia Safitri, Founder Pendulum, dan Dodiet Prasetyo, CEO Bumdesma Banyumas dengan Athariq Dias Muyasar, Vice President, Society of Renewable Energy (SRE) ITS sebagai moderator diskusi.

Khoiria Oktaviani mengungkapkan bahwa Indonesia berkomitmen menurunkan gas rumah kaca sebesar 29% dari business as usual (BAU) pada 2030 dan 41% dengan bantuan internasional. Indonesia mempunyai target bauran ET sebesar 23% di 2025, namun, hingga saat ini baru mencapai 9%.

Menurutnya, kesempatan mengembangan usaha di bidang ET sangat besar, terutama karena Indonesia mempunyai potensi yang besar di ET. “Indonesia punya potensi ET mencapai 400 GW, tapi yang dimanfaatkan baru 10 GW (2,5%)”, ungkapnya.

Khoiria mengundang para pemuda Indonesia untuk terlibat dalam pengembangan startup ET. Ia menjabarkan bahwa sejak 2018, Kementerian ESDM 2018 mengambil peran lebih aktif sebagai pusat penghubung beragam pemangku kepentingan untuk mendorong pemanfaatan ET.

“Kami menyediakan akses kepada ide, inovasi, proyek pilot dan semi komersial, dan menghubungkan startup dengan pemerintah, asosiasi, atau pemberi dana atau pengembangan kapasitas di bidang energi,” jelasnya.

Ia memandang, saat ini sangat mudah untuk mendapatkan pembiayaan usaha di bidang ET. Hanya saja, Khoiria mengingatkan untuk para startup untuk memastikan produk mereka tidak hanya inovatif, tapi juga aplikatif bagi masyarakat. Hal ini akan membuat produk bisa bertahan lama dan berkelanjutan karena menjawab permasalahan masyarakat. Selain itu, ia menghimbau perintis usaha ET untuk mengenali pasar dan mengembangkan produknya.

“Jadi, kita tidak berhenti di satu produk saja. Bila pola konsumsi masyarakat berubah, maka kita pun harus berubah. Penting pula untuk melakukan promosi produk kita dan melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak,” jelasnya.

Kolaborasi ini pula yang Dodiet rasakan dalam upaya mengembangkan ET di desa dampingannya. Sebagai penyedia jasa konsolidasi bagi 25 Bumdes di Banyumas, ia merasa terbantu saat masyarakat desa menemukan potensi air sungai, ada pihak yang melakukan studi kelayakan untuk pengembangan listrik ET di desa.

Meski Dodiet menemukan tantangan untuk mengembangkan ET di desa, misalnya seperti kontur desa yang sulit atau sumber ET yang tidak merata, namun ia yakin masyarakat desa dapat berkompetisi dan berinovasi sehingga bisa menjadi desa yang mandiri energi.

Di lain pihak, Aditya menemukan dari hasil pendampingannya kepada para startup ET, ternyata banyak bentuk proyek startupnya masih berupa ide. Ia melalui New Energy Nexus melakukan pendampingan agar mereka bisa berkembang dengan mempertemukan kelompok startup dengan para mentor, meningkatkan kapasitas mereka di bidang finansial, promosi, pembangunan website dan lainnya.

Salah satu proyek dampingan New Energy Nexus, Yulia dari Pendulum, membagikan kisahnya saat membangun startup yang berfokus pada ET gelombang laut. Dia membutuhkan waktu 3 tahun untuk menuangkan idenya menjadi sesuatu yang nyata.

Lulusan ITS ini berusaha mengatasi permasalahan nelayan bagan dalam memenuhi kebutuhan bahan bakarnya selama melaut. Nelayan bagan adalah nelayan yang menggunakan bagan sebagai alat tangkap yang tersusun dari bambu yang ditancapkan ke dasar laut, sementara wadah bagian atasnya dilengkapi generator dan gas untuk menyalakan lampu. Lampu inilah yang menarik ikan masuk ke dalam jaring. Para nelayan bagan ini membutuhkan setidaknya 4,5 kg gas untuk menjaga lampunya tetap menyala. Disamping harganya yang mahal, mereka juga harus mengantri untuk mendapatkan bahan bakar tersebut. Selain itu, mereka kewalahan untuk melakukan perawatan sistem listrik di tengah laut.

Pengembangan energi gelombang laut ini akan membuat nelayan tidak khawatir kebutuhan energinya karena bisa langsung tersedia dari gelombang laut.

Yulia merasa saat ini akan lebih mudah bagi anak muda dalam mendirikan startup karena ekosistem yang mendukung perkembangan ET sudah terbentuk. Para panelis sepakat bahwa untuk menjaga agar startup bisa lebih maju bertahan lama, perlu adanya perjanjian yang mengikat bagi setiap orang yang terlibat dalam membangun startup dan membangun jejaring yang lebih luas dengan diversifikasi keahlian serta dukungan kebijakan yang menguntungkan ET dari pemerintah.

Webinar conducted with IESR, 11 November 2020, 10 AM

Panelists

1. Khoiria Oktaviani, Manajer Komunikasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
2. Farida Zaituni, Lead Environment and Social Safeguard, PT Sarana Multi Infrastruktur
3. Aditya Mulya, Program Manager, New Energy Nexus
4. Yulia Safitri, Founder, Pendulum

Moderator
Habib Azizi, President, Society Renewable Energy (SRE) ITS

 

 

This article first published in IESR Website.