Kompetisi Ide di Ibukota Sosial Media Dunia

oleh Andy Budiman
Message01.03.2016
Kompetisi Ide di Ibukota Sosial Media Dunia

Majalah The Economist suatu ketika pernah menulis artikel berjudul “Eat, Pray, and Tweet” – merujuk film terkenal yang dibintangi Julia Roberts, yang berlatar Bali – untuk menggambarkan prilaku orang Indonesia di sosial media.

Sebuah metafora yang sangat tepat menggambarkan bagaimana orang Indonesia berinteraksi di jejaring media komunikasi baru tersebut. Sebelum makan, orang mengambil gambar makanan dan mengunggahnya di Path atau Twitter. Orang Indonesia gemar saling mendoakan lewat Facebook atau grup Whatsapp, meski Tuhan tidak ada… di sosial media. Dunia menjuluki Indonesia sebagai ibukota sosial media, jutaan orang terutama kaum muda, semakin menggemari Facebook, Twitter, Instagram serta berbagai platform lainnya.

Sebagai gambaran, dari sekitar 255 juta penduduk, Indonesia tercatat memiliki sekitar 72 juta akun sosial media, di mana rata-rata mereka menghabiskan hampir tiga jam untuk berselancar di sana. Populasi pengguna Twitter Indonesia adalah nomor tiga terbesar dunia, sementara untuk Facebook, negeri ini tercatat memiliki populasi nomor empat terbanyak dunia. “Kegilaan” orang Indonesia di sosial media termanifes dalam statistik. Tahun 2013 misalnya, setiap detik ada 385 tweet atau cuitan dari Indonesia. Lalu lintas tweet dari Jakarta mengalahkan cuitan dari Tokyo, London atau New York.

Pertarungan Identitas

Sosial media menciptakan ruang demokratis baru. Ia, harus diakui telah memperluas batas-batas kebebasan berkespresi. Medium ini memberi kesempatan kepada suara-suara yang tak pernah terdengar sebelumnya di media mainstream. Apalagi media arus utama, terutama televisi – yang masih merupakan media paling berpengaruh bagi masyarakat dan sumber informasi utama – sayangnya dikuasi oleh oligarki politik. Ketua umum Partai Golkar Aburizal Bakrie memiliki stasiun televisi berita TV One serta kanal ANTV. Sementara Ketua Dewan Pembina Partai Nasionalis Demokrat atau Nasdem, Surya Paloh adalah pemilik stasiun TV berita Metro TV. Hary Tanoesoedibjo, Ketua Umum Partai Persatuan Indonesia PERINDO, tercatat memiliki tiga stasiun televisi yakni RCTI, MNC and Global TV. Kehadiran sosial media, sedikit banyak mengubah permainan dalam diskursus politik Indonesia. Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2012, serta Pemilihan Presiden 2014, memperlihatkan peran sosial media yang semakin besar. Secara sederhana, sosial media mempermudah orang mengekspresikan pendapat mereka. Mengakibatkan, pada satu sisi muncul kesadaran kelompok yang didasarkan pada persamaan identitas atau gagasan. Namun pada sisi lain, ia memperlihatkan perbedaan diantara individu. Dari sanalah kemudian berkembang debat, dialog hingga bully antara individu atau kelompok.

Twitwar, akronim tweet of war atau perang cuitan, atau debat menanggapi status di Facebook menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hidup di era sosial media seperti hidup di dalam rumah kaca, di mana orang saling memperhatikan sekaligus diperhatikan oleh orang lain.Secara umum debat di ibukota sosial media, terjadi diantara kelompok Liberal dengan kelompok Konservatif, dalam merespon sejumlah isu terkait ketegangan dalam hubungan antara Negara dengan Agama, ekspresikan kehidupan beragama di ranah publik, serta isu kebijakan politik atau ekonomi. Kelompok Liberal secara positif menggunakan medium ini untuk mengukur sikap publik, untuk melihat sejauh mana pendirian mereka terkait sejumlah isu sensitif menyangkut kebebasan. Medium ini dipergunakan kelompok Liberal untuk secara terus menerus memperluas batas-batas kebebasan. Bagi demokrasi Indonesia yang masih tergolong muda, debat semacam ini adalah sebuah investasi bagi masa depan kebebasan. Sosial media dipakai kelompok Liberal untuk menyebarkan ide-ide demokrasi. Beberapa akun secara rutin menyiarkan Kultwit atau kuliah twitter, terkait tema khusus. Akun seperti @hotradero atau @aswicahyono secara rutin menyampaikan pandangan tentang pasar bebas atau minimal state, untuk isu kebebasan ada @gm_gm serta @idetopia atau @ulil dan @AlissaWahid untuk isu terkait pandangan Islam yang moderat. Untuk sastra ada akun @nd_nir.

Gerakan Sosial melalui Sosmed

Januari lalu, setelah serangan teroris yang mengejutkan terjadi di jantung Jakarta – yang dikenal sebagai serang teror di Sarinah, jalan Thamrin — saya bersama sejumlah teman menggalang kampanye di sosial media menggunakan hashtag #kamitidaktakut, dan menyebarkannya melalui Facebook dan Twitter. Kami merancang aksi solidaritas melalui medium Whatsapp: penggalangan, koordinasi dan penyebaran informasi praktis dilakukan melalui medium komunikasi baru ini. Hasilnya cukup memuaskan, karena gerakan ini mendapat respon positif dari publik, tokoh masyarakat dan pemerintah. Gerakan – yang murni dilakukan melalui sosial media ini – ini memobilisir ratusan orang, mulai dari diplomat, tokoh politik, tokoh agama, aktivis, profesional hingga warga biasa ikut bergabung bersama turun ke jalan dalam aksi damai solidaritas untuk para korban sambil mengirim pesan jelas kepada teroris bahwa #kamitidaktakut. Aksi ini memperoleh publikasi luas dari media dalam dan luar negeri. Para pengurus Serikat Jurnalis untuk Keragaman SEJUK, organisasi tempat saya bernaung secara kreatif menggunakan sosial media untuk menawarkan perspektif alternatif kepada publik – yang sebagian besar berpandangan konservatif – dalam isu hate speech, terorisme, kebebasan beragama serta pentingnya menghormati hak kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender LGBT.

Anda bisa menyimak pandangan para pengelola SEJUK lewat akun Twitter: @Alex_Junaidi @saidiman @awigra @budh1kurni4 dan saya sendiri @andy_bud. Sosial media, saya percaya adalah alat terpenting di masa depan dalam penyebaran ide-ide kebebasan. Platform ini memberi kita kesempatan untuk mengekspresikan pandangan serta mengorganisir kawan-kawan yang punya pandangan sama, dalam merespon isu aktual. Sosial media adalah pasar bebas ide, dan kita yang percaya pada ide-ide kebebasan harus masuk dalam kompetisi di sana, agar ruang di pasar tersebut tidak didominasi oleh kelompok anti Demokrasi.

Andy Budiman

Pendiri dan Pengurus Serikat Jurnalis untuk Keragaman SEJUK

Follow Twitter: @andy_bud