Markus Löning: Pengungsi adalah manusia sama seperti kita

Message25.11.2015
Markus Löning: Pengungsi adalah manusia sama seperti kita
Visit to FNF by Mr. Loenning

Pada tanggal 3 November 2015, FNF mengadakan acara diskusi terbuka mengenai topik "Migrasi dan HAM di Eropa“. Latar belakang pembahasan masalah ditandai dengan meningkatnya jumlah pengungsi dari Timur Tengah menuju Eropa. Jumlah pengungsi yang angkanya diperkirakan sudah mencapai lebih dari 500.000 akan terus meningkat selama pertumpahan darah yang disebabkan oleh perang saudara dan agama masih melanda di timur tengah. Untuk Eropa sendiri ini bukan hanya sekedar masalah menampung pengungsi, tetapi ini juga merupakan sutu tantangan besar bagaimana mengintegrasikan pengungsi dengan baik.

Menurut wakil Presiden Liberal Internationial, Markus Löning yang merupakan pembicara utama pada sesi acara hari ini, masalah pengungsi di Jerman telah memicu reaksi positif dan negatif di Eropa dan juga dunia, termasuk Indonesia. Tidak semua negara di Eropa menyambut pengungsi dengan sangat terbuka seperti di Jerman. Secara manusiawi pengungsi tidak bisa diperlakukan seperti orang buangan, karena mereka adalah manusia sama seperti kita. Dengan kata lain, mereka harus dilihat dan dianggap sama seperti manusia dan berhak menerima perlakuan yang sama. Markus Löning juga menambahkan bahwa di sisi lain Jerman tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap negara lain di Eropa untuk membuka pintunya secara lebar, karena negara memiliki kedaulatan untuk memutuskan nasibnya sendiri.

Di akhir sesi Markus Löning dengan optimis berpendapat bahwa Jerman dapat mengatasi masalah pengungsi dengan baik. Berkaca pada masa lalu, Jerman telah melewati tantangan-tantangan yang lebih berat daripada situasi yang sekarang ini.  Beliau tidak memungkiri bahwa dengan meningkatnya jumlah pengungsi di Jerman akan menambah pelbagai bentuk kriminalitas yang dipicu oleh pengangguran dan sensitivitas agama. Tetapi di sisi lain, jumlah peningkatan pengungsi akan memberikan dampak positif untuk perekonomian Jerman di masa mendatang.