Peluang Transformasi Digital dalam Meningkatkan Kualitas Demokrasi Global

United Nations of Innovation #HackingDemocracy, 6 November 2019, Berlin, Jerman
Events09.12.2019*Wijanarko, Retech Solution Indonesia
United Nations of Innovation – #HackingDemocracy, 6 Nov 2019, Berlin
Wijanarko, delegasi Indonesia pada United Nations of Innovation – #HackingDemocracy, 6 Nov 2019, Berlin photothek/Thomas Trutschel

Pada bulan September lalu, Retech mengirimkan proposal tentang ide program lingkungan hidup kepada Climate Institute yang merupakan yayasan fokus menangani isu-isu tentang lingkungan hidup. Chief Executive Officer (CEO)  Retech Solution Indonesia, Wijanarko bersama rekannya Bimo Aji Priambudi selaku Chief Marketing Officer (CMO) dan  Sayid Rahman selaku Graphical Designer menuangkan ide inovatif tentang manajemen pengolahan sampah, manajemen pengolahan air, manajemen pertanian dan manajemen energi dalam sebuah program bina lingkungan hidup. Kemudian tanpa diduga, proposal kami lolos dan berhasil mendapatkan kesempatan untuk mengikuti acara Workshop Hackathon Change4Climate 2019 yang merupakan hasil kerjasama antara Friedrich Naumann Foundation (FNF) Indonesia, Climate Institute, dan Saora Industries di Kuala Lumpur, Malaysia pada tanggal 5-7 Oktober 2019 lalu. Disana kami kembali beradu ide inovatif bersama pemuda-pemudi inovator dari negara Malaysia.  Pada acara workshop tersebut, perwakilan tim Retech Solution Indonesia berhasil mendapatkan penghargaan “Best Idea” sehingga terpilih menjadi delegasi mewakili Lembaga FNF Indonesia dalam United Nations of Global Innovation di Berlin, Jerman pada 6 November 2019. Konferensi ini diikuti oleh puluhan negara anggota PBB yang tergabung dalam Lembaga Friedrich Naumann Stiftung yang merupakan Lembaga khusus menangani politik, teknologi, riset, sosial, dan pemerintahan.

Wijanarko, delegasi FNF Indonesia dalam Konferensi United Nations of Innovation #HackingDemocracy
Wijanarko, delegasi FNF Indonesia dalam Konferensi United Nations of Innovation #HackingDemocracy

Wijanarko selaku CEO Retech Solution Indonesia yang terpilih menjadi delegasi FNF Indonesia berangkat menuju Berlin, Jerman pada tanggal 4 November 2019. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 18 jam karena harus transit terlebih dahulu selama tiga jam di Istanbul, Turki. Wijanarko bersama rekan delegasi Rachel Lee yang berasal dari FNF Malaysia tiba di Berlin pada tanggal 5 November 2019. Kemudian besoknya tanggal 6 November 2019 Konferensi Internasional dengan tema “United Nations of Global Innovation” dimulai. Konferensi dihadiri oleh delegasi dari berbagai belahan benua di dunia. Delegasi dari Benua Asia adalah Indonesia, Malaysia, Kazakhztan, India, Taiwan, Hongkong, Singapura, Korea Selatan, dan Republik Rakyat Cina. Kemudian delegasi dari benua Eropa antaralain Jerman, Russia, United Kingdom, Estonia, Montenegro, Belanda, Prancis, Denmark, Hungaria, Itali, dan Swiss. Delegasi dari benua Amerika diwakili oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Chile. Benua Australia diwakili oleh negara Australia beserta negara bagiannya. Sedangkan untuk benua Afrika hanya diwakili oleh dua negara, yaitu Afrika Selatan dan Uganda.

Konferensi dibuka langsung oleh CEO Friedrich Naumann Stiftung, Prof. Dr. Karl-Heinz Paque yang fokus membahas peran inovasi teknologi dalam upaya meningkatkan performa demokrasi di dunia. Kemudian acara dilanjutkan dengan telekonferensi dengan Menteri Digital Taiwan membahas peran transformasi digital dalam mencegah berita palsu (hoaxs) yang sekarang sangat rentan mengganggu kinerja dari demokrasi di dunia. Selain itu, peran kemajuan teknologi informasi juga menjadi fokus pembicaraan mengingat di era digitalisasi dan disrupsi sekarang ini, kita harus sangat bijaksana dan kreatif dalam menggunakan dan memanfaatkan inovasi teknologi informasi. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan Workshop Paralel Group dengan sistem Focus Group Discussion. Terdapat empat topik pembahasan dalam workshop antaralain Civic Tech, How to Fight Populism, Technology For Good Governance, dan Open Data as Enablers of Innovation. Retech Solution Indonesia masuk dalam kelompok workshop dengan tema Open Data as Enablers of Innovation.

Dalam workshop, Delegasi FNF Indonesia menyampaikan beberapa ide mengenai manajemen lingkungan hidup, energi, dan pertanian dalam upaya membuat demokrasi menjadi lebih tangguh, efisien, transparan, kinerja baik, dan berorientasi pada rakyat. Dalam membuat kebijakan manajemen pengelolaan yang baik, tentu memerlukan data dan keterbukaan informasi dari masing-masing pemangku kepentingan yang berwenang. Hal itu sesuai dengan visi dan misi Retech sebagai agen konsultansi yang menjembatani antara pemangku kepentingan dengan masyarakat umum dalam hal pengelolaan lingkungan hidup, energi, dan pertanian. Untuk dapat mengendalikan masyarakat, maka kita harus meningkatkan kesejahteraannya melalui bidang energi dan pangan. Kemudian kita juga harus membuat lingkungan hidup menjadi aman, nyaman, dan sehat sehingga kita bisa mendapatkan simpati publik. Dengan begitu, demokrasi dalam masyarakat akan lebih kondusif dan tangguh. Setelah Workshop, acara dilanjutkan dengan talkshow membahas peran generasi milenial dan generasi Z terhadap perkembangan demokrasi di masa kini dan mendatang. Dalam acara talkshow turut hadir Philipp Amthor MdB sebagai politisi Bundestagsfraktion, Konstantin Kuhle MdB sebagai politisi Deutschen Bundestag, Laura-Kristine Krause sebagai Tokoh Milenial Deutschland, dan Laura Zimmermann sebagai Co-Prasidentin Operation Libero, Schweiz. Acara diakhiri dengan pembacaan kesimpulan oleh CEO Friedrich Naumann Stiftung, Prof. Dr. Karl-Heinz Paque yang menyatakan banyak ide inovatif yang diperlukan untuk meningkatkan performa demokrasi. Kita sebagai generasi penerus demokrasi dari berbagai negara harus bisa mengambil bagian dalam memajukan sistem demokrasi untuk kepentingan rakyat.

 

Tentang Penulis

Wijanarko adalah pemuda asal Desa Sungai Duri, Kabupaten Bengkayang yang mendirikan startup retechsolution.id yang memiliki kantor pusat di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Retech Solution Indonesia terbentuk pada tanggal 1 Januari 2019 yang memiliki beberapa Co-Founder yang berasal dari disiplin ilmu  multi bidang. Retech Solution Indonesia merupakan startup penyedia jasa konsultansi yang fokus menangani permasalahan bidang lingkungan hidup, energi, dan pertanian. Ide awal dalam merintis didapatkan dari melihat banyaknya permasalahan lingkungan hidup terutama dalam pengelolaan limbah dan air bersih yang tak kunjung selesai di negara Indonesia ini. Ditambah lagi masalah defisit energi, khususnya energi listrik dan bahan bakar yang masih melanda negeri yang kaya sumber daya alam ini. Belum lagi masalah ketimpangan pertanian yang masih menjadi momok di negeri penghasil sektor agraris terbesar di Asia Tenggara. Beberapa pemangku kepentingan yang berkewajiban menangani masalah tersebut kurang melakukan koordinasi dan sinergitas dengan pemangku kepentingan lainnya sehingga penanganan menjadi lambat dan tidak tepat sasaran.

Dalam pengelolaan lingkungan hidup, energi, dan pertanian sangat diperlukan manajemen pengelolaan yang baik dan sinergis dari hulu ke hilir agar diperoleh hasil yang optimal. Retech hadir sebagai agen konsultansi dalam menjembatani antara pemangku kepentingan dengan masyarakat dalam hal manajemen pengelolaan limbah, air bersih, pertanian, dan energi sehingga kebijakan yang diputuskan dapat tepat sasaran dan untuk kepentingan masyarakat umum. Dalam perjalanannya, Retech dapat menjadi mitra instansi pemerintah, perusahaan, organisasi, komunitas, dan LSM yang membutuhkan jasa konsultansi di tiga bidang tersebut. Sampai saat ini Retech sudah memiliki banyak klien dan mitra kerjasama diantaranya Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkayang, Lembaga Sekolah Batas Negeri, dan beberapa perusahaan lokal Pontianak lainnya.

 

Liputan lengkap dan rekaman video selama konferensi berlangsung dapat diakses pada kanal YouTube Friedrich Naumann Foundation (https://www.youtube.com/user/stiftungfreiheit/videos) atau melalui tautan berikut: https://www.freiheit.org/hackingdemocracy-mit-innovation-die-demokratie-verbessern

(Artikel dan bahasa pengantar selama acara menggunakan Bahasa Jerman)