Seminar “Lahan Gambut dan Perubahan Iklim”

Pekanbaru
Message07.03.2016
Seminar “Lahan Gambut dan Perubahan Iklim”

Provinsi Riau merupakan wilayah yang sangat kaya akan lahan gambut. Dari total 6 juta hektar lahan gambut di Pulau Sumatra, 4 juta di antaranya berada di Provinsi Riau. Namun, fungsi lahan gambut sebagai salah satu keanekaragaman hayati seringkali “dikalahkan” oleh kepentingan korporasi.

Seminar Nasional “Lahan Gambut dan Perubahan Iklim” yang diadakan oleh Friedrich Naumann Foundation bersama dengan Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman Eddy (STAILE) di Balai Adat Melayu – Riau pada 1 Maret 2016 lalu menghadirkan tiga pembicara yaitu Dr. Sabarno Dwiyulianto, MM (Balai Lingkungan Hidup – BLH Riau), H. Sugianto (DPRD Riau) dan Billy Ariez (Youth Freedom Network). Dalam bagian awal presentasinya, Dr. Sabarno menjelaskan definisi lahan gambut sebagai lahan dengan akumulasi bahan organik (kayu, daun dan akar) dengan kedalaman 50 cm dan memiliki kandungan karbon organic lebih dari 50%. Area inti lahan gambut, juga erat kaitannya dengan keanekaragaman hayati. Namun, lahan gambut, khususnya di Provinsi Riau sangat rentan dengan kerusakan. Beberapa penyebab utamanya antara lain adalah pembukaan drainase atau kanal, perkebunan atau HTI secara besar-besaran, kebakaran hutan, illegal loggingdan terpaparnya/teroksidasinya sedimen berpirit yang bersifat racun bagi tanaman. Hal ini terutama berdampak pada rusaknya sistem tata air, dihasilkannya emisi CO2/CH4 serta terjadinya penurunan muka permukaan gambut sehingga rawan dengan banjir.

Sementara itu, dari perspektif pemerintah, H. Sugianto menyoroti regulasi yang seringkali tumpul ke atas, namun tajam ke bawah. Ditambah lagi, sebagian lahan perkebunan dan HTI (Hutan Tanaman Industri) justru tidak memiliki izin yang legal. Hal inilah yang acapkali membuat korporasi-korporasi besar bebas melenggang dari jeratan hukum. Di lain pihak, Billy Ariez menyoroti masalah kehutanan dan lahan gambut sebagai permasalahan internasional sebagaimana yang telah tertuang dalam COP 21. Dalam hal ini, Riau termasuk ke dalam wilayah rawan kebakaran hutan bersama dengan Provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Jambi. Selain turut menyoroti lemahnya kerangka hukum dan perundangan, Billy juga menggarisbawahi bonus demografi Indonesia hingga tahun 2040. Produktivitas yang akan semakin meningkat harus disikapi dengan pengelolaan yang baik, termasuk agenda-agenda strategis dari kelompok muda dalam menangani perubahan iklim.

Seminar “Lahan Gambut dan Perubahan Iklim”
Moderator dan Pembicara Seminar
Seminar “Lahan Gambut dan Perubahan Iklim”
Penjelasan Dr. Sabarno dari Balai Lingkungan Hidup Riau
Seminar “Lahan Gambut dan Perubahan Iklim”
Sesi Tanya Jawab
Seminar “Lahan Gambut dan Perubahan Iklim”
Penyerahan kenang-kenangan oleh STAILE kepada Program Officer FNF, Muhamad Husni Thamrin