Workshop Meliput Isu Keberagaman

Denpasar, 4-6 Maret 2016
Message07.03.2016
Workshop Meliput Isu Keberagaman

Tak hanya ramah untuk turis, ternyata Bali juga ramah untuk pemeluk beragama. Masih dalam usaha mempromosikan nilai toleransi di dalam keberagaman, kali ini Friedrich Naumann Foundation Indonesia bekerja sama dengan Serikat Jurnalis Keberagaman (SEJUK) memilih Denpasar, Bali sebagai tempat penyelenggaraan. Dihadiri oleh 24 Peserta dari perwakilan berbagai Lembaga Pers Kampus se Indonesia, acara ini didukung oleh Kementerian Hukum dan HAM (KEMENKUMHAM) Republik Indonesia, dihadiri oleh Ibu Rena dan Ibu Eny dari Sub Bagian Kerja Sama Luar Negeri.

IMG_4063

Kegiatan ini masih menitikberatkan pentingnya jurnalisme damai di Indonesia. Berbagai macam isu mengenai keragaman agama, kepercayaan, ras dan juga isu HAM menjadi tantangan bagi pers untuk memberikan aktualitas dan kebenaran berita terhadap publik tanpa memihak ataupun mendiskriminasi golongan tertentu. Tujuan dasar inilah yang menjadi landasan FNF dan SEJUK menyelenggarakan workshop Meliput Keberagaman.
Budi Kurniawan salah satu narasumber yang kesehariannya menjadi Produser di salah satu TV Swasta menuturkan bahwa ketika meliput isu keberagaman, pers tidak boleh melibatkan keyakinan pribadinya, tidak menghina, menampilkan stereotype dan menyebarkan prasangka. Penting sekali untuk memosisikan diri pada keadaan netral. Alif Herlambang, narasumber lainnya menekankan bahwa berita yang kini marak disebarkan kepada khalayak banyak yang bersumber pada pengamatan subjektif bukan menggambarkan sesuatu secara deskriptif tanpa menaruh unsur opini di dalamnya. Kedua hal tersebut adalah hal yang harus dihindari, opini pers dapat memengaruhi opini publik dan memicu diskriminasi ataupun konflik.
Setelah mendapatkan materi dan pembekalan menulis feature, para peserta melakukan field visit kedua tempat yakni Kampung Bugis di Kampung Serangan dan Desa Tuka di kabupaten Badung. Kampung Bugis adalah kampung yang dihuni oleh masyarakat muslim yang berasal dari Makassar, sedangkan desa Tuka adalah desa yang dihuni oleh pemeluk agama Kristen Katolik. Di kedua tempat tersebut, para peserta diberikan tugas untuk melakukan reportase dan membuat tulisan bagaimana harmonitas terjadi dan diciptakan oleh para pemeluk agama yang berbeda disana. Dari hasil reportase tersebut, misal di Kampung Bugis para pemeluk agama Islam dan Hindu membuat kesepakatan bahwa ketika hari Nyepi, muslim di kampung Bugis tetap boleh keluar rumah di perkarangan kampung dan pihak muslim menyetujui untuk tidak menyiarkan adzan menggunakan pengeras suara. “Ketika gerhana matahari nanti pun kami telah bertemu untuk berdiskusi, pihak Hindu akan sembayang di Pura dan pihak Muslim akan melakukan solat berjemaah di Masjid, pecalang akan bantu mengamankan kedua prosesi tersebut” tutur Bapak Kaling salah seorang narasumber.

IMG_4103

Tak kalah dalam menunjukan harmonitas, di Desa Tuka pun para pemeluk agama Katolik membuka diri terhadap kaum Hindu yang jumlahnya lebih sedikit disana. Mereka mengikuti peraturan Nyepi layaknya seperti kaum Hindu, tidak melakukan keributan dan tidak keluar rumah.
Dari hasil kegiatan 3 hari ini diharapkan para peserta mampu membawa ilmu dan pengetahuan mengenai jurnalisme damai dan membagikan semua itu kepada teman-teman pers mahasiswa di kampung halamannya masing-masing.