Workshop Pers Kampus “Mewartakan Keberagaman”

Manado, 20-22 Mei 2016
Message31.05.2016
Freigeist
Freigeist

Freigeist! Menjadi jiwa yang bebas tapi tetap menghargai setiap kebebasan individu.

Workshop Pers Kampus “Mewartakan Keragaman”

Begitulah sekiranya pesan yang ingin disampaikan dari kegiatan Workshop Pers Kampus “Mewartakan Keragaman” yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta Manado pada 20- 22 Mei 2016.

Kegiatan ini merupakan workshop kedua yang diselenggarakan di tahun ini atas kerjasama FNF dan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) dan didukung oleh Kementerian Hukum dan HAM (KEMENKUMHAM). Menghadirkan beberapa Narasumber dari Yayasan Dian Rakyat Indonesia (Bapak Syarif Hidayat), Yayasan Suar Asa Khatulistiwa (Ibu Andy Yentriyani) dan juga SEJUK. Peserta merupakan jurnalis dari Pers Kampus dari berbagai daerah di Nusantara, seperti Gorontalo, Ternate, Padang, Jakarta, Bali, Yogyakarta dan beberapa daerah lainnya. Untuk mengikuti kegiatan ini, peserta diwajibkan untuk mengirimkan tulisan mengenai isu pluralisme pada tahapan penyeleksian.

Dalam kegiatan ini, peserta diberikan pembekalan materi mengenai hakikat kebebasan memeluk agama dan kepercayaan; prinsip-prinsip jurnalisme dalam memberitakan isu agama, gender, HAM; dan menulis feature mengenai isu pluralisme. Sistem penyampaian diajukan dua arah dengan metode diskusi, sehingga terjalin suasana bertukar pikiran sepanjang penyampaian materi.

Kali ini Manado dipilih sebagai tempat penyelenggaraan karena peserta diharapkan mampu membawa pesan kedamaian ditengah keragaman yang terjadi di kota Manado. Pluralisme sangat kentara hidup di Manado, berbagai suku bangsa, agama, dan kelompok sosial hidup berdampingan secara damai. Hampir tidak pernah ditemukan konflik antarwarga karena keragaman tersebut.

Setelah mendapatkan pembakalan untuk menulis feature, di hari kedua para peserta melakukan kunjungan ke sebuah Sinagog di daerah Tondano di hari kedua workshop. Yaakov Baruch, seorang Rabbi di sinagog tersebut berkisah banyak. Dimulai dengan awal mula datangnya agama Yahudi di Manado, berdirinya sinagog di kawasan tersebut hingga situasi yang mereka hadapi saat ini. Dia juga menuturkan beberapa ajaran Yahudi yang salah satunya, seorang Rabbi tidak pernah menuntun seseorang dari agama lain untuk memeluk agama Yahudi. Seorang Yahudi justru memberikan dukungan terhadap pemeluk agama lain untuk lebih mengenal agamanya sendiri karena seorang Yahudi yakin bahwa Tuhan telah menciptakan jalan masing-masing kepada umat beragama untuk mencapai nirwana.

Kedamaian tercipta bukan karena homogenitas antar umat manusia, melainkan sikap bertoleransi atas perbedaan yang ada.

Freigeist